BATIK TULISKU SAYANG, BATIK TULISKU MALANG

BATIK TULISKU SAYANG, BATIK TULISKU MALANG
Oleh : Misman al. Akh. Syaifuddin
( Perangkat Desa Galuh Kec. Bojongsari Kab. Purbalingga )

I. GAMBARAN UMUM KONDISI DESA
a. Kondisi Geografis Desa
Desa Galuh termasuk dalam wilayah Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga bagian Selatan yang memiliki batas-batas administrative sebagai berikut :
Sebelah utara : Desa Banjaran
Sebelah timur : Desa Kalikajar
Sebelah Selatan : Kelurahan Wirasana
Sebelah Barat : Desa Brobot
Jarak dari Desa Galuh ke beberapa kota/desa sekitarnya sebagai berikut :
1. Jarak Desa ke Kecamatan : 5 km
2. Waktu tempuh ke Kecamatan : 15 Menit
Desa Galuh Kecamatan Bojongsari memiliiki luas wilayah 126,134 Ha , yang secara admnistratif terbagi dalam 4 Kepala Dusun, 6 RW dan 12 RT, dengan jumlah warga : 3.183 jiwa, dengan perincian laki-laki : 1.712 jiwa, perempuan : 1.471 jiwa. Ds. Banjaran
Peta Desa Galuh :

RT 006 RT 001 U
Ds. Gembong
RT 005 RT 002
Utara : ds. Banjaran
RT 004 Timur : ds. Kalikajar
RT 003 Selatan : Kel. Wirasana
RT 011 Barat : ds. Brobot
RT 011
RT 012
RT 007 RT 007 Ds. Kalikajar
Ds. Brobot
RT 008 RT OO8

RT 009 RT 009
RT 010
RT 010
1 Kelurahan Wirasana
Desa Galuh adalah desa tersmpit dan penduduknya paling sedikit sewilayah Kecamatan Bojongsari.

b. Pencaharian Warga
Kebanyakan warga Desa Galuh untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, mereka punya usaha yang beraneka ragam. Namun pencaharian yang paling dominan adalah sebagai Karyawan/ Karyawati atau Tenaga Buruh Perusahaan/ Perseroan Tterbatas. Ada juga yang bertani, berdagang, baik di kios/ warung maupun dagang keliling. Sebagian lagi ada yang berwirausaha makanan kecil, produksi sepatu, wajan dan knalpot.
II. SEKILAS SEJARAH LIKA – LIKU BATIK TULIS DI DESA GALUH
Dari berbagai mata pencaharian tersebut, di era tahun 1970 sampai tahun 1995, membatik seolah menjadi ikon tersendiri. Hampir di setiap rumah ada pengrajin Batik Tulis yang sedang membatik di rumahnya sendiri maupun di rumah tetangga, baik dari kalangan bawah, kalangan menengah sampai “ Kalangan Atas.” Apalagi kalau Bulan Puasa tiba, kebanyakan dari mereka “ nyereg “ ( buru – buru untuk segera menyelesaikan “karyanya”) sebelum Lebaran. Biasanya mereka “nyereg” sampai tanggal 25 Romadlon. Tujuan “ nyereg” adalah untuk mendapat bayaran dan “ THR “ dari sang “ Juragan “ di kota X.
Dari nenek – nenek, Ibu – Ibu, para remaja, bahkan anak – anak, semuanya sangat semangat dalam membatik. Saking semangat dan meratanya pengrajin Batik Tulis waktu itu, maka Desa Galuh cukup “ punya nama “ di Kabupaten Purbalingga. Namun, sungguh sangat disayangkan, hasil dari membatik tidak sebanding dengan jerih lelah yang mereka lakukan, karena karya mereka adalah “ buruh “ kepada seseorang di kota X dengan upah yang rendah ( kalau tidak mau dikatakan sangat rendah }. Ternyata bahan – bahan untuk membatik termasuk alat – alatnya dari seseorang di kota X. Itu sama artinya masyarakat pengrajin Batik Tulis di Desa Galuh adalah sebagai “ buruh.”
2

III. PROBLEMATIKA
Seiring dengan kemajuan zaman dan maraknya perusahaan – perusahaan/ Perseroan Terbatas ( PT ) yang “ lumayan menjanjikan,” di mana masyarakat semakin merasakan bertumpuk-tundungnya “ beban hidup “ yang harus dipenuhi, baik kebutuhan untuk sandang, papan, dan pangan, banyak juga kebutuhan lain yang juga harus dipenuhi, diantaranya biaya pendidikan, dan kebutuhan akan maraknya kendaraan bermotor, maka sedikit demi sedikit mereka “ berganti haluan “ dari Batik Tulis ke Karyawan/ Karyawati dan atau sebagai buruh pada perusahaan – perusahaan/ Perseroan Terbatas atau pada lapangan kerja lain yang dipandang “ lebih “ dalam penghasilan. Apalagi di kota kita sendiri – Purbalingga tercinta – cukup banyak perusahaan – perusahaan/ Perseroan Terbatas ataupun CV yang membutuhkan tenaga kerja, bukan hanya puluhan tenaga kerja maupun ratusan tenaga kerja, tapi ada yang sampai ribuan tenaga kerja. Di samping itu, “ gajinya “ jauh lebih besar daripada sebagai pengrajin Batik Tulis.
Di samping itu, kerja sebagai karyawan/ karyawati PT, pakaiannya necis, rapih, bersih dan berminyak wangi yang baunya sangat semerbak. Sedangkan membatik, pakaiannya lusuh dan berbau asap. Intinya membatik adalah pekerjaan yang membosankan.
Berkaitan dengan fenomena tersebut, maka tidak heran, kalau pengrajin Batik Tulis di Desa Galuh semakin lama semakin berkurang, tinggal beberapa orang saja. Itupun rata – rata orangnya sudah berusia tua. Remaja, apalagi anak – anak sudah mulai “ gah-ogahan terjun “ sebagai pengrajin Batik Tulis. Penyebab utamanya adalah tidak sebandingnya antara penghasilan dari membatik dengan biaya hidup yang harus dipenuhi.

3
IV, SECERCAH HARAPAN
Adalah KURNIA KEMALASARI anak pasangan dari bpk. Almarhum Arman Setiono dan Ibu Yuniati, lahir di Galuh, tanggal 03 Februari 2003, Dusun III RT 010/RW 003 Desa Galuh, duduk di Kelas VIII SLTP Negeri 1 Purbalingga sebagai Juara I Tingkat Nasional Lomba Membuat Desain Batik Tulis Tahun 2014.
Berkaitan dengan hal tersebut, Kurnia Kemalasari diundang ke Istana Kepresidenan Republik Indonesia dan berjabat tangan dengan Presiden Republik Indonesia Bpk. Susilo Bambang Yudoyono ( SBY ). Dan yang kedua anak muda muda kelas Vi SD Negeri Galuh bernama TRISNI YULIANA anak pasangan dari Bpk. Sunarko dan Ibu Wartini, lahir di Galuh, tanggal 13 Juli 2005, dusun III, RT 009/ RW 005 Galuh sebagai Juara I Lomba Membuat Desain Batik Tulis di Solo – Jawa Tengah Tahun 2016. Dan Juara II Tingkat Nasional pada tahun yang sama.
Di satu sisi masyarakat Desa Galuh berbangga hati, namun di sisi lain bersedih hati. Mengapa ? Berbangga hati karena ada anak muda yang mengharumkan nama baik Desa Galuh dengan Juara Lomba Membuat Desain Batik Tulis. Tetapi mereka berdua adalah pelajar, apakah mereka nantinya akan mampu mempertahankan dan mengembangkan serta mempertahankan “ Budaya Batik Tulis-“nya ? Itulah pertanyaan yang seharusnya mendapat perhatian dari masyarakat dan Pemerintah, baik Pemerintah Desa, Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat agar kejuaraan mereka berdua bermakna dan bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan budaya Batik Tulis untuk masyarakat luas.
Kebanggan yang kedua, bahwa di Desa Galuh di samping masih ada yang mau jadi pengrajin Batik Tulis, walaupun sedikit jumlahnya. Itupun rata – rata sudah berusia tua. Yang bikin bangga adanya sebuah kios kecil yang menampung dan membuat karya Batik Tulis yaitu RUMAH BATIK WARDI di RT 001/RW 001 Desa Galuh. Rumah Batik Wardi ini sering mendapat pesanan dari Pemerintah Kabupaten Purbalingga. Berdasarkan informasi,
4
bahwa di Tahun 2016 ini Rumah Batik Wardi mendapat pesanan 500 ( Lima Ratus ) lembar Batik Tulis dari Pemerintah Kabupaten Purbalingga.
Desa Galuh juga bersedih, karena sebagimana uraian di atas, bahwa dengan semakin banyaknya Perushaan dan Perseroan
Terbatas yang menyerap ribuan tenaga kerja, didukung oleh gaji yang lebih besar daripada upah membatik Batik Tulis, serta dihimpit oleh berbagai kebutuhan hidup, maka semakin lama semikin sedikit para pengrajin Batik Tulis. Maka sungguh betapa kasihan wahai Batik Tulisku Sayang, Batik Tulisku Malang. Semoga tidak malang sungguhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *